Showing posts with label ilmu. Show all posts
Showing posts with label ilmu. Show all posts

Thursday, August 16, 2012

Antara Adab-adab Penuntut Ilmu

Antara Adab-adab Penuntut Ilmu dari penulisan Syeikh Nuruddin Marbu Al Banjari dalam Makanat al Ilm wa al 'Ulama wa Adab Tolib al Ilm :

Berkata Imam al Khatib semoga Allah Ta'ala merahmatinya :

Hendaklah penuntut ilmu itu menjauhi bermain dan kerja yang sia-sia, silih berganti ketawa, terbahak-bahak, melakukan perkara-perkara ganjil dan selalu bergurau. Adapun ketawa yang sedikit adalah dibenarkan asalkan tidak keluar dari batasan adab dan tatacara menuntut ilmu. Dan banyak ketawa serta bergurau ini boleh mencacatkan kedudukan seseorang dan boleh menghilangkan maruahnya.

Kata Imam Malik, semoga Allah Ta'ala merahmatinya :

Sesungguhnya adalah menjadi satu kemestian ke atas penuntut ilmu itu bersifat sopan dan tetap pendirian, tenang, takut kepada Allah dan mengikuti jejak langkah ulama sebelumnya.

Kata Imam Nawawi di dalam al Tibyan :

Dan seharusnya penuntut itu juga dapat beradab bersama kawan-kawannya dan orang-orang yang menghadiri majlis syeikhnya kerana yang demikian ini juga bermakna beradab bersama syeikhnya, memelihara majlisnya, duduk di hadapan syeikhnya dengan duduk sebagai murid bukan sebagai guru.

Tidak mengangkat suara yang berlebihan tanpa hajat, tidak ketawa, tidak banyak bercakap tanpa hajat, tidak bermain-main dengan tangannya atau dengan yang lainnya. tidak menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa hajat, bahkan hendaklah menghadap dengan tekun ke arah syeikhnya serta menumpukan pendengarannya dan tidak bertanya kepada syeikhnya sesuatu yang bukan pada tempatnya kecuali dia meyakini syeikhnya tidak akan membencinya.

Monday, September 26, 2011

Walau Tak Mudah, Cobalah Mengikhlas

“Wahai para pembawa ilmu,” kata Ali bin Abi Thalib memulai wejangannya kepara para ngajiers, “Beramallah dengan ilmu kalian. Karena, yang disebut alim adalah orang yang mengamalkan apa yang ia ketahui dan ilmunya sesuai dengan amalnya. Akan ada suatu kaum yang membawa ilmu tidak melebihi kerongkongan mereka. Ilmu mereka bertentangan dengan amal mereka. Batin mereka bertentangan dengan lahir mereka. Mereka duduk dalam halaqah untuk saling berdebat antara yang satu dengan yang lain. Hingga, ada seseorang yang marah kepada rekannya, lalu berpindah dengan yang lain dan meninggalkan rekannya. Amalan mereka dalam majelis itu tidak akan bisa naik kepada Allah Ta‘ala.”

Ngajiers, para ulama sangat perhatian untuk berbicara tentang ikhlas dan menekankannya. Karena itu adalah penyakit yang akan mencelakakan diri. Tentu, kita berlindung diri dari penyakit ini. Maka, harus kita waspadai selalu. Karena Sufyan telah memberikan peringatan, “Tidaklah seorang hamba bertambah ilmunya tetapi kecintaannya terhadap dunia juga bertambah, melainkan ia akan semakin jauh dari Allah.”

Abu Bakar Al-Ajuri ketika membahas sifat para ngajiers dan etika-etikanya menuturkan, “Hendaklah ia mengetahui bahwa Allah telah mewajibkan peribadatan kepada-Nya. Sedangkan, ibadah tidak akan benar tanpa ada ilmu. Maka, inilah tujuan menuntut ilmu dengan keyakinan yang ikhlas dalam mencari. Ia tidak melihat ada kelebihan pada dirinya dalam mencari ilmu, tetapi ia melihat bahwa Allah telah memberikan keutamaan atas dirinya. Sebab, Allah telah memberikan taufiq kepadanya untuk mencari ilmu yang dapat ia gunakan untuk beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.”

Maka, sejatinya, menjadi ngajiers adalah sebuah anugerah dalam kehidupan. Bagaimana tidak, tidak semua orang dikasih kesempatan oleh-Nya untuk menjadi seorang ngajiers. Maka, bersyukurlah... karena keutamaan-keutamaan akan segera memberkahi hidup.

Akan tetapi, ketika tujuan lurus sebagai seorang ngajiers tercelai, maka perkataan Imam Nawawi berikut yang akan menjelaskan, “Ketahuilah bahwa keutamaan yang kami sebutkan terkait dengan menuntut ilmu tidak lain adalah bagi orang yang tujuannya karena mencari ridha Allah Ta‘ala, bukan tujuan duniawi. Barangsiapa yang mencari ilmu untuk mencari dunia seperti; harta benda, pangkat, kedudukan, popularitas, menarik perhatian manusia kepadanya, mengalahkan lawan debatnya, atau yang sejenisnya, maka hal tersebut adalah tercela.”

Oleh itulah, jika jiwa-jiwa suci kita mulai terkotori polusi syahwati, tertempeli lumut sum’ah dan perasaan ujub diri, maka mulailah lagi untuk memperbaiki niat, menundukkan nafsunya untuk ikhlas, menepis godaan-godaan syaithani dan berlindung dari kejahatannya yang merusak iman diri. Sehingga, niatnya kembali bersih, dan tertutupnya pintu masuk setan ke dalam jiwa.

Jangankan kita, para salafush shalih juga mengalami hal yang sama kok. Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Samak, ia berkata, “Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata, ‘Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih susah bagiku dari mengobati niatku. Karena, niat itu selalu berbolak-balik pada diriku.” Jadi? Jadi, wajar saja, ketika niat kita terkadang menjadi tiba-tiba berbelok di tengah jalan. Itu sah saja. Toh, kita manusia biasa saja bukan? Seorang ngajiers yang keren, selalu berusaha me-reset niatnya menjadi yang terbersih dan tersuci. Dan itu butuh waktu yang tidak sedikit untuk menaklukkan segala godaan diri tersebut...

Terkadang, ada saja godaan dengan datangnya suatu kondisi yang demikian: yaitu ketika setan menjadikan riya’ dan rasa khawatir sebagai senjata untuk menghalangi ngajiers dari tujuannya. Ia menghalangi seorang mereka untuk menghadiri majelis ilmu dan terkadang juga menghalangi para dai untuk memberikan pelajaran-pelajarannya dengan alasan manusia akan terkesima dengan pembicaraannya dan hal tersebut akan menghantarkan kepada riya’ atau mereka kemudian terkesima dengan perkataannya dan tertakjub akan keahliannya.

Sungguh, para ulama membedakan antara riya’ yang menjadi motivasi awal dalam beramal, dengan seorang muslim yang menyelesaikan amalnya dengan ikhlas kemudian mendapati pada dirinya ada semacam rasa senang lantaran pujian manusia kepadanya setelah ia selesai beramal. Maka, hal ini, insya Allah, tidak membuat keikhlasan menjadi cacat. Karena di dalam sana, ia tengah bertarung dengan perasaannya sendiri. Maka, semoga hadits ini mampu menenteramkan:

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Dzar, bahwa ia berkata, “Rasulullah pernah ditanya, ‘Apa pendapatmu tentang seseorang yang melakukan amal baik, lalu manusia memberikan pujian kepadanya?’ Beliau bersabda, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi orang beriman.”

Maka, ketika perasaan riya’ dengan begitu dahsyat menghampiri diri, tetap ngaji kawan, tetaplah mencari ilmu, tetaplah untuk menggesa ketajaman intelektualitas dan iman diri. Sebagaimana wejangan dari Imam Nawawi berikut ini.

“Hendaknya tidak herhenti mengajar seseorang hanya lantaran niatnya tidak benar. Karena, yang diharapkan adalah niat ia bisa baik. Bisa jadi memperbaiki niat itu agak sulit bagi mayoritas para pemula karena kelemahan jiwa mereka dan kurangnya kesadaran tentang wajibnya memperbaiki niat. Maka berhenti dari mengajar mereka, akan menyebabkan terlewatkannya banyak ilmu. Padahal, yang diharapkan adalah ia bisa memperbaiki niatnya sebagai berkah dari ilmu di saat ia sadar dengan ilmu tersebut.”

Godaan adalah tamu tak diundang yang selalu datang dan membadai jalan kehidupan. Perlu pelindung diri agar tak terdebui akibat badai itu. Nah, sebegitu juga dalam lingkup aktivitas para ngajiers yang sarat keilmuan. Imam Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis-nya memperingatkan tentang suatu kondisi yang suatu saat akan datang dan menghampiri para ngajiers.

“Terkadang Iblis membuat perangkap kepada orang yang biasa memberi nasihat seperti ini: ‘Orang seperti kamu tidak pantas untuk menasihati, tetapi yang pantas untuk itu adalah orang yang biasa bangun (malam).’ Lalu, hal itu membuatnya diam dan berhenti. Padahal, hal itu termasuk tipu daya Iblis. Sebab, ia berusaha melarang perbuatan baik. Iblis juga berkata: ‘Sesungguhnya kamu menikmati apa yang kamu sampaikan dan kamu merasa senang. Bisa jadi dalam ucapanmu ada unsur riya’, padahal berdiam diri adalah lebih selamat.’ Tujuan Iblis dari itu semua adalah untuk menutup pintu kebaikan.”

Ah, sungguh indah nian wasiat Imam Ghazali dalam Ayyuhal Walad-nya ketika beliau mengingatkan para ngajiers akan pentingnya mengevaluasi diri dan bertanya tentang motif yang mendorongnya untuk menuntut ilmu dan siap menanggung semua rintangannya. “Berapa banyak malam yang telah kamu hidupkan,” kata beliau, “Untuk mengulang ilmu dan mentelaah kitab-kitab. Kamu menahan diri untuk tidur. Aku tidak tahu apa motivasimu dari itu semua? Apabila niatmu untuk mencari kesenangan dunia, mengumpulkan kekayaannya, mencari kedudukan dan membanggakan diri dihadapan para sahabat dan orang-orang sepertimu, maka celakalah kamu dan celakalah kamu.

Namun, apabila tujuanmu dalam menuntut ilmu adalah untuk menghidupkan syari‘at Nabi, mendidik akhlakmu, dan menghancurkan nafsu yang senantiasa memerintahkan kejahatan, maka beruntunglah kamu dan beruntunglah kamu....”

Yah, beruntunglah kamu wahai para ngajiers. Beruntunglah, sungguh, tak banyak yang mau mengambil jalan penuh barakah ini. Sungguh, tak banyak yang mau mengambil jalan menuju jannah ini. Sungguh, tak banyak yang mau mengambil jalan yang di mana malaikat selalu menaungi dan mendoakan ini. Sungguh, beruntunglah, beruntunglah... walaupun ikhlas, memang sekata yang tidak mudah untuk diamalkan...

Maka, ikhlas, berkawankan pengorbanan... sebagaimana mencari ilmu, pengorbanan pun tak sedikit yang harus terkucurkan... harta, jiwa, raga, waktu, keluarga, semuanya... tapi di sana, kita bernikmat diri dengan perjuangan untuk mengikhlas diri... demi ridha-Nya...

Semoga menginspirasi....

--------------------------------------------------------------
Fachmy Casofa
fachmy_85@yahoo.co.id
http://writhink.wordpress.com/

Wednesday, June 8, 2011

Berilmu Tetapi Tidak Berakhlaq ?


Kes 1 :

Ada seorang pelajar baru memasuki kuliah ilmu, lalu belajarlah ia dua, tiga hadith dari gurunya. Kemudian dia sudah menghafaz sedikit sebanyak ayat al Quran. Gurunya itulah satu-satunya yang dijadikan sumber rujukan. Segala-galanya yang betul datangnya dari gurunya. Pasti tiada salah. Lalu ia mula bermain dengan persoalan hukum. Sebab dirasanya diri sudah cukup ilmu untuk berfatwa. Mana-mana yang tidak berkenan atau bercanggah dengan pendapatnya dia mengatakan itu adalah sesat barat.

Sehinggakan habis dihukum ulamak yang muktabar, mujtahid adalah tersilap pandangan mereka. Dengan memberi alasan yang dirasanya paling kukuh - ulamak tidak maksum, berhujjah mestilah mengikut dalil yang paling sahih dan terkuat.

Malangnya - yang betul baginya adalah ulamak yang ia ikut, tetapi ulamak yang lain pasti salah. Pasti salah hadithnya, dan berkemungkinan aqidah ulamak itu terkeluar dari ahlu sunnah wal jama'ah. Manakala dalil yang terkuat baginya - juga sebenarnya adalah dari apa yang ia dapat sendiri dari kitab yang ia baca. Tentunya dalil itu juga dari ulamak yang ia taksubkan.

Bermulalah era baru yang dizikirkan di bibirnya adalah - itu haram, ini bid'ah, engkau sesat!


Kes 2 :

Seorang murid, sudah diajar akhlaq oleh gurunya. Tentang adab percakapan, adab menuntut ilmu. Adab berhadapan dengan guru. Entah di mana silapnya, tetap sahaja murid itu lancang mulutnya bila berbual dengan gurunya. Tidak ada perasaan hormat. Bengkeng, bidas, dan sebagainya untuk menunjukkan dirinya yang jahil itu adalah benar.

...........................................................................................................................................................................

Tahu dan Faham

Zaman ini ada golongan pelajar yang bersemangat belajar ilmu hanya untuk tahu. Tetapi ia lupa - pengeTAHUan yang ia ada hanya sedikit. Akhirnya TAHUnya itu menjadikan ia merasa hebat. Menjadikan dirinya terasa betul. Ia tenggelam dalam TAHU tapi JAHIL akhlaq.

TAHU sahaja tidak cukup tanpa kefahaman. Orang yang hanya tahu gula itu manis, tidak sama dengan orang yang sudah merasai kemanisan gula apatah lagi dimana ia perlu digunakan kemanisan gula tersebut.

ALlah dan RasulNya mengajar kita agar mempunyai akhlak yang baik sesama manusia, samada dari segi pertuturan, perbuatan, bahkan dalam hati sendiri. Apatah lagi dengan sesama saudara Islam. Bukankah RasuluLLah diutuskan untuk menyempurnakan akhlaq, bahkan akhlaq RasuluLLah itu sendiri adalah al Quran?

Kita diajar untuk beradab kepada guru-guru, ustaz-ustazah, alim ulama kerana keutamaan mereka.

قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِى ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ‌ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (٩)

Katakanlah lagi (kepadanya): Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dan peringatan hanyalah orang-orang yang berakal sempurna. (Surah az Zumar : 9)

Bahkan di dalam urusan solat jemaah sekalipun, diutamakan adalah orang yang lebih yang mahir bacaannya di dalam al Quran.Telah dicontohkan oleh RasuluLLah di dalam peperangan Uhud, sahabat yang lebih banyak mengambil al Quran didahulukan untuk dimasukkan ke dalam liang kubur.

Dari Jabir r.a : Sesungguhnya Nabi SallaLLahu 'alaihi wasallam telah menghimpunkan antara dua orang lelaki dari mereka-mereka yang terbunuh di dalam peperangan Uhud iaitu di kubur, kemudian baginda bersabda :"Yang manakah dari keduanya yang lebih banyak mengambil al Quran?". Apabila ditunjukkan kepada salah seorang dari keduanya, baginda mendahulukan (orang yang tersebut) ke dalam liang lahad. (Riwayat Bukhari)


Hakikat Ilmu Yang Kita Ada


ALLahu..ALlah..

Adab sebagai pelajar, jika ilmu masih sedikit (hakikatnya ilmu manusia tiada yang banyak melainkan ALLah yang Empunya Ilmu), masih bertatih tahulah berakhlaq. Sedangkan para ulamak yang faqih, berkelana di bumi ALLah untuk mencari ribuan guru, bahkan menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan hingga kini amat menjaga akhlaq sesama guru dan ulama yang lain. Sehinggakan sifat yang tercerna dari diri mereka menjadi ikutan bagi ulama yang takutkan ALLah.

إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (٢٨)

Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun. (Surah al Fatir : 28)

Oleh itu wahai pelajar, jika para ulama yang hebat ilmunya itu sendiri amat menjaga tutur katanya, tidak bermudah-mudah berhukum dengan apa yang tidak mereka ketahui. Mengapa kita sendiri yang amat sedikit ilmu tidak belajar untuk merendahkan diri?. Adakah akhlaq itu tidak termasuk di dalam halal dan haram di dalam perhubungan sesama manusia? Sudah bolehkah kita berlaku sombong dengan ilmu yang sedikit sedangkan kita lupa ilmu yang kita ada juga boleh ditarik pada bila-bila masa?.

Ilmu tanpa akhlaq menunjukkan kita sendiri menghina ilmu yang diberi oleh ALlah.

Set DVD PENGAJARAN ADAB BERSAMA USTAZ ZAMRI mendidik kanak-kanak tentang adab terhadap Diri Sendiri, Ibu Bapa, Alam Sekitar dan lain-lain melalui pendekatan yang mudah dan menyeronokkan.

Categories

Abu Bakr (Ruben) (1) Abu Nadjih bin Abasah Assulamy r.a. (1) Abu Talhah (1) Acai Berry (1) adab (6) adab islami (1) Agama Hindu (1) ahli hikmah (1) ahlul bait (1) Aidid Mu'addib (1) Aidilfitri (2) Aisyah binti Abu Bakar RA (1) ajar anak (1) Ajaran Syiah (2) akhlak (3) Al Fatihah (1) Al Ghaist (1) Al Hariths Al Muhasibi (1) Al-Jassasah (1) Al-Quran (1) alam (1) amalan (1) Anas Bin Malik (1) Ancaman Besar (1) As-Syamail Muhammadiyyah (1) Asyura (1) aurat (1) ayat seribu dinar (1) Badr (1) bahagia (1) bakhil (1) Bani Umayyah (1) bank rakyat (1) bergurau (1) Beri Acai (1) biola (1) blacklisted loans (1) buta (1) caci (1) cahaya (1) cela (1) cerita (1) cinta (5) cinta sejati (1) Dahri (1) Dajjal (2) doa (2) doa keluar rumah (1) duduk (1) falsafah Melayu (1) fasik (1) fiqh (1) fitnah (2) gaza (1) Ghibah (1) Habib Umar (1) hadis (21) hairan (1) haji (2) halal haram (2) halaqah (1) hari raya (1) harta (1) Hasan Al-Banna (1) http://ibnuyaacob.com (1) hukum (1) Human Touch Consultant (1) huraian (1) ibadah (1) Ibnu Mas'ud (1) ibu (3) ijtihad (1) ikhlas (2) ilmu (3) Imam Abu Hanifah (1) Imam Bukhari (1) Imam Hammad bin Abi Sulaiman Al-Asy’ari (1) Imam Ibnu Al-Jazari (1) Imam Ibnu Hajar (1) israk mi'raj (1) isteri (1) istidraj (1) istigfar (1) Istikharah (1) jana duit (1) jati diri (1) Jibril (2) kacang (1) kartini (1) kasih sayang (2) kata-kata hikmah (1) kaya (1) kebersihan (1) kejadian manusia (1) kekasih (1) Kelahiran Nabi Junjungan (3) kelebihan (1) keledai (1) keluarga (1) kenyang (1) kesopanan (1) Khadijah (1) Khairu Ummah (1) Khalifah Umar bin Abd al Aziz (1) khatamun nubuwwah (1) khilafah (1) kiamat (1) kikir (1) kisah (2) koperasi (1) kulit (1) LAMAN ASNAF PERMATA HATIKU (LIMPAH) (1) langit dan Bumi (1) lapar (1) Laut Yaman (1) lumayan (1) Luqmanul Hakim (1) maaf (1) madrasah (1) mahar (1) makan (2) makanan (1) Makkah (1) malaikat (1) masjid (1) masuk Islam (1) mati (1) mayat (1) mehnah (1) meja kayu (1) Melayu (1) membaca Al-Qur'an (1) menangis (1) menghulur sumbangan (1) menguap (1) menuntut ilmu (1) mimpi Nabi (1) miskin (1) Misykat (1) MLM (1) Muhammad saw (2) Muharram (1) muqarrobin (1) murah rezeki (2) muslimah (1) Nabi Ibrahim as (1) Nabi Muhammad s.a.w. (1) Nabi Musa as (1) nasihat (4) nikah (1) nikmat (1) panduan (1) pasangan hidup (1) pelaburan (1) pelajaran (1) pemaaf (1) penampilan (1) pengajian (1) pengemis (2) pengetahuan penting (1) pengurusan diri (1) pengurusna masa (1) penyakit hati (1) Perang Muslimin Versus Yahudi (1) perbaiki diri (1) perempuan (1) peringatan (1) perjalanan (1) Perjanjian Hudaibiyah (1) perkara tak manfaat (1) persinggahan (1) personal loans (1) pinjaman (1) pinjaman modal (1) Prof Dr Ahmad Syalabi (1) puasa (1) Qarnuts-Tsa'alib (1) qawa'id fiqhiyyah (1) Qiraat (1) Quran (1) qurban (2) Ramadhan (1) rantaian email (1) Rasulullah (13) rawatan (1) rawatan percuma (1) RED DEAD (1) rezeki (1) riak (1) riwayat (1) riya' (2) riyak (1) rumah (1) rumahtangga (1) Ruqyah Syar'iyyah (1) sahabat (2) Sahih Bukhari (1) Saidina Ali (1) Saidina Umar (1) Salafussoleh (1) Samiri (2) sedekah (1) sederhana (1) Sejarah (1) Selamatkan diri dari kebodohan (1) selawat (3) senarai produk haram (1) setekah wafat (1) Sheikh ‘Ali Jumaah (1) Sheikh Usamah As-Sayyid Al-Azhari (1) siddiqin (1) sikap (1) Sirah an-Nabawiyyah (1) Siti Aisyah r.a. (1) skandal melayu (1) solat (5) solat dalam kenderaan (1) Solat Jumaat (1) Solat sunat (1) solat yang diterima (1) solehah (2) solehin (1) sunnah (5) surah (1) Surah Al-Ikhlas (1) Surah Al-Kahfi (1) surah pendek (1) syair (1) syaqq (1) Syeikh Nuruddin Marbu Al Banjari (1) syukur (1) tabarruk (1) Tafsir Ya Sin (1) tahajjud (1) Tamak (1) tasawuf (2) tawadhu’ (1) tawaduk (1) tawaf (1) teknik kekal fokus (1) teknik mengingat (1) teman (1) Teratai (1) tidur (3) Tip mengurangkan tekanan (1) tudung (1) Umar Bin Abdul Aziz (2) Umm Sulaym (1) ummu (1) umpat (1) usahawan (1) video (1) wanita (5) wudhu (2) wuduk (1) www.akhirzaman.info/ (1) Yahudi (2) YouTube (1) zakat (1) zikir (2) zikir selepas solat (1) zulhijjah (1)

Senarai Update